WELCOME !

THIS IS

image
Hello,

I'm Dapid Nurdiansyah

I am currently management student that has a keen intrerest in Entrepreneurship, Marketing and Education. I grew up by dint of volunteerism. I consider becoming a future marketing specialist and useful human being for society.


Education
Universitas Negeri Jakarta

Management, Faculty of Economics

Yayasan Pemimpin Anak Bangsa

Kejar Paket C

Sekolah Master Indonesia

Master FEB UI, Social Sciences


Activities
Asian Games 2018

Volunteer of Accreditation Department

Asian Games 2018: Invitation Tournament

Volunteer of IT&T Department

Management Event 2018, FE UNJ

Head of Public Relations


Playground
Event Management
Writing
Public Speaking
Design
#MencobaSerius
Showing posts with label Mencoba Serius. Show all posts
Showing posts with label Mencoba Serius. Show all posts

Kenapa Kita Gagal

“Hidup itu bukan kayak balapan. Yang ketika orang lain sampai di garis finish duluan lalu kita gagal. Hidup itu kayak masak. Masing-masing dari kita diberi ‘bahan’ dan usaha kita adalah menghasilkan hidangan terbaik yang bisa kita lakukan dengan bahan yang kita punya. 
Mungkin beberapa orang sangat baik dalam appetizer atau main course sementara kita sangat buruk di situ. Tapi bisa jadi kita lebih baik dari dia dalam dessert, plating atau hal lain. Gua yakin gak ada manusia yang mutlak sempurna dalam segala hal.”


Sore hari kamis kemarin, di selasar FEB UI, saya menyimak setiap cerita dan kalimat yang dilontarkan oleh seorang mas-mas di depan saya. Orang yang ngasih saya filosofi di atas. Mas Gigih namanya. Orang yang bahkan belum lama saya kenal, tapi udah cukup berjasa memantik semangat saya buat kerja lebih keras dari yang lain, “going extra miles” istilah yang dia pakai. Karena hanya dengan semangat itu saya rasa orang-orang yang “bahan memasaknya” terbatas bisa sampai pada hidangan terbaik mereka.

Saya mendadak pengen ketemu dia setelah lihat ini.

Rasanya saya butuh teman diskusi.
(Bytheway, mungkin siapa itu mas Gigih bisa kamu baca di blognya dan sepertinya kapan-kapan saya perlu menulis itu di postingan berbeda)

Ini sebetulnya berawal dari pertanyaan diri saya atas satu hal: Kenapa di dalam kamus kita harus menemukan kata Gagal?

Dan apapula itu “gagal”? Mungkin sering kita dengar gagal sendiri dibilangnya keberhasilan yang tertunda. Ah, itu hanya konsep. Persepsi yang orang desain agar siap menghadapi kegagalan. Kegagalan sendiri, kamu tau, adalah kata yang maknanya amat sederhana. You Failed! Kamu gak berhasil melakukan sesuatu.

Tapi kenapa?

Saya sadar saya sedang berhadapan dengan pertanyaan yang bisa memunculkan banyak jawaban berbeda. Seperti halnya kita memandang tugu monas, banyak cara untuk melihatnya. Tergantung dari sudut mana kita berdiri dan menyimpulkan apa yang kita lihat dan rasakan.

Seringkali satu hal yang memperburuk kegagalan itu sendiri adalah ketika kita akhirnya membandingkan kegagalan kita dengan keberhasilan orang lain yang juga berproses dengan kita. Kata apa yang lebih pas dari “I’M A LOSER”

Rasanya saya butuh tong sampah besar lalu menyemplung-kan diri di dalamnya.

“Minder itu wajar. Gua juga sempat ngalamin itu. Tapi apakah dengan gua mengeluhkan keadaan gua akan lebih baik? It doesn’t improve anything. When life gives you lemons, make lemonade!” katanya, setelah hampir 2 jam kami ngobrol.

Kalo kamu udah baca siapa mas Gigih ini, kamu akan tau dia pun berjuang dari keterbatasan. Bersekolah di desa terpencil, bekerja sebagai Office Boy Outsourcing dengan menahan cibiran tetangga, yang setelah kegagalan berhasil melanjutkan kuliahnya di Manajemen FEB UI dan akhirnya lulus di tahun ini.



Sore itu ditutup dengan pencerahan. Sekaligus perasaan “kecil”. Merasa ini belum apa-apa. Cemen sekali saya mengeluh soal kegagalan di usia semuda ini. Padahal untuk sampai pada hidangan terbaik bumbu utamanya adalah kegagalan. See?

Dan sebagaimana hidup katanya kayak memasak, mungkin istilah gagal itu gak pernah ada. Yang sebenarnya ada hanyalah hidangannya udah jadi, cuma belum cukup enak aja. Lagi-lagi ini hanya konsep, bukan?

Tapi katakanlah kita masih pakai istilah itu, mungkin yang dibutuhkan orang gagal hanyalah waktu.  Waktu untuk berpikir, waktu untuk sendirian.

Mungkin yang perlu orang gagal lakukan adalah membuat kegagalannya menjadi hal sederhana.

Sesederhana pertanyaan “kenapa kita gagal?”

Kemudian kita jawab juga dengan sederhana:
Agar kita kembali belajar. 
Belajar, kenapa kita gagal.

Udah Siap?

Udah lama gak ngeblog, dan kembali nulis setelah vakum ngeblog beberapa bulan. Oh my blog, maafkan majikan mu ini ya..

Beberapa postingan juga sengaja di hapus, biar lebih fresh aja. Mulai dari nol. Kata orang2 memulai dari nol itu indah. Lah, kayak mbak-mbak di pom bensin dong iya.. "dimulai dari nol iya, mas!".

Anyway, sepertinya ditulisan kali ini saya pengin agak serius nih. Akhir2 ini saya dapet banyak pelajaran hidup yg.. Katakanlah, berharga.

Oke, markitmul..

Entah kenapa, ada 1 hal yg sering muncul di pikiran saya di beberapa hari terakhir ini.

Kematian.

Bagi sebagian orang, kematian mungkin menjadi hal yg menyeramkan. Bahkan lebih menyeramkan dari cabe2an yg pake bedak tebel di malam minggu.

Jujur, ada 2 hal yg bikin saya scared sama kematian. Pertama, saya takut melewati proses menuju kematian. Kedua, karna saya merasa 'bekal' saya belum cukup untuk bisa sampai di tempat terbaik yg jadi peristirahatan terakhir nanti.

Tunggu dulu, kenapa saya seserius ini?

Jadi gini, hari rabu lalu secara mengejutkan saya dapet info di twitter teman bahwa bus yg membawa murid salah satu sekolah teman saya mengalami kecelakaan saat menuju destinasi terakhir dari rangkaian study tour yg di adakan sekolah tsb.

Sebenarnya peristiwa terjadi di selasa petang. Dan saya baru tau rabu sore. Agak telat. Awalnya saya gak mengira akan ada korban yg-nahas-nya hingga 9 orang meninggal. Terlebih ada 2 teman yg saya kenal--cukup akrab--sampai saat ini. 

Tapi saya gak 'menelan' mentah-mentah berita yg saya dapet dari tweet yg masih simpang siur tersebut. Berusaha cari info yg bisa diyakini kebenarannya. Dan.. God.. Saya hanya diam beberapa saat menatap layar handphone. Seperti gak percaya.

Teman yg lu kenal, yg sempat ngisi hidup lu, sekarang udah di panggil Tuhan. Berada di kehidupan yg lebih kekal. 

Seperti mimpi. Sekaligus tamparan keras buat saya dan juga anak muda yg lain. Selama ini saya menganggap kematian adalah topik yg sensitif untuk di bahas. Sesuatu yg 'ada' tapi seringkali terlupakan. Alasannya klise: "men, saya masih 17 tahun. Masa depan saya masih panjang! Belum kerja, belum nikah." Saya keliru. Dan perisitiwa ini bikin saya kembali sadar, saya ini lemah. Makhluk yg lemah. Kematian bisa dateng pada siapa aja. Gak pandang bulu. Ini semua pasti akan terjadi sama saya. Entah detik ini, besok, lusa, kapanpun.

Beberapa hari sebelumnya, hari jumat, saya masih sempat chat di bbm dengan teman yg jadi salah satu korban ini. Kebayang, gimana kagetnya dengar kabar kayak gitu saat lu sendiri sebelumnya masih sempat ngobrol sm dia

pict taken from google


Kesedihan. Kematian selalu ninggalin kesedihan. Ada yg langsung ikhlas menerima, ada yg mungkin menganggap ini terlalu cepat. Karna hal terbesar yg sulit di tinggalkan dari kehilangan seseorang adalah kenangannya. Saya mengerti.

Mendoakan. Cara terbaik mengikhlaskan seseorang yg telah meninggal ya mendoakan. Semua udah tertulis sesuai dengan takdirnya masing2. Gak ada yg bisa diubah. Life must go on. 

Saya berusaha memandang musibah dan membalikannya pada diri saya sendiri. Apa yg saya rasain kalo ada di posisi keluarga korban saat ini? Sedih, pasti. Kehilangan, udah jelas. Dan akan timbul pertanyaan: "kenapa harus dia? Kenapa secepat itu?" Tapi semua balik lg ke takdir. Kita, manusia gak bisa ngelawan takdir. Saya gak akan ada hari ini, nulis ini, kalo gak karena takdir. So, percaya mungkin opsi yg tepat. Percaya kalo Tuhan selalu punya rencana baik.

Saya berharap, keluarga korban di beri kekuatan, keikhlasan.

Semenjak berita kepergian teman saya itu, saya merasa kecil. Bukan apa apa. Bukan siapa siapa. Sejenak, Saya berpikir ulang, apa yg udah saya lakuin selama hidup ini? Ada yg bermanfaat gak? Siap gak kalo seandainya nyawa kita di ambil pada saat kita sendiri gak tau waktunya kapan? Saya harus berbuat sesuatu. Sesuatu yg seenggaknya ada manfaat buat orang di sekitar. Bahagiain orang tua, ngumpulin bekal buat kehidupan kedua nanti. Karna setiap satu demi satu tarikan napas, hari demi hari yg dilewatin adalah proses mendekat dengan kematian. Setidaknya, itu yg saya tau.

Seperti yg pernah dibilang imam al ghazali: hal yg paling dekat dengan kita ya.. kematian.

Kematian juga misteri. Gak ada yg tau kapan. Yg baik bisa duluan, bahkan mungkin yg gak baik juga bisa duluan. Tuhan punya kriteria penilaian sendiri. 

Tapi yg kita tau pasti, kematian bakalan datang. Dan dari sini timbul pertanyaan sederhana di benak saya:  udahsiap?

***
*ps: postingan ini especially untuk teman saya: Ajeng Narulita, Silvi Octaviani, beserta 7 korban kecelakaan yg lain. Semoga diberikan tempat yg terbaik dan amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT. Amin.

Any Idea To Share?

Contact Dapid
DAPID NURDIANSYAH
AVAILABLE UPON REQUEST
BOGOR, INDONESIA

Pages